
KESEDIHAN LINTANG karya IRA WIDANA (DUMAI POS)
FOTO PILIHAN peraih Rida Award 20011
Kamis, 29 September 2011
Kesedihan Lintang
Pekikan Suara Lintang Bangunkan Sang Induk
Napak Tilas, Detik-detik Terakhir Kehidupan Gajah Liar
Konflik manusia versus gajah menyisakan cerita tersendri. Bukti tak terbantahkanmenyembul ke permukaan, keserakahan bani Adam menjadi ancaman serius bagi populasi hewan ini. Lantas apa yang harus dilakukan manusia agar anak cucu mereka kelak masih bias melihat binatang itu? Tak hanya sebatas di film kartun atau dongeng pengantar tidur si buyung.
Laporan IRA WIDANA, Duri
RASA ingin menang sendiri (baca: ego) yang konon menjadi trade mark manusia tercermin dalam konflik manusia versus gajah. Berlebihan? Rasa-rasanya tidak. Hewan dalam bahasa latin dikenal dengan nama Elephas Maximus kerap dipojokan atau menjadi ‘tersangka’ dalam ‘perseteruan’ meletihkan itu.
Cerita tentang gajah di Desa Balairaja, Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis, misalnya, cermin keserakahan dan, ketamakan manusia saat berinteraksi dengan alam Di kala kawanan gajah itu menyatroni pemukiman penduduk sekedar mengganjal perut, karena habitat hewan ini porak-poranda ulah tangan-tangan manusia, sadar atau tidak binatang ini diposisikan menjadi ‘terdakwa’. Dengan kata lain, biang kerok koflik berkepanjangan itu.
Paling tidak, ini tercermin dari judul yang kerap menghiasi media massa pasca gajah mendatangi pemukiman warga, misalnya, “Gajah Liar Merusak Ladang dan Pemukiman Penduduk” atau “Gajah Liar Masuk Pemukiman, jadi Tontonan”. Bisa juga “Gajah Menambah Angka Kemiskinan” termasuk judul “Usir gajah, Warga Habiskan Puluhan Juta” dan “Seekor Induk Gajah Liar Mati Diracun...” bla...bla....
Sepertinya tidak ada ruang bagi binatang berbelalai panjang ini untuk membela diri –meminjam istilah Kode Etik Jurnalistik (KEJ)- sang gajah pun tak pernah diberi hak jawab. Meski siapa pun mahfum, jauh sebelum cucu bani Adam menempati wilayah itu, kawanan hewan ini lebih dulu menempati daerah tersebut. Ah, sementara waktu lupakan perseteruan itu, ada cerita yang teramat sayang dilewatkan begitu saja, tatakala Dumai Pos menjadi salah satu saksi mata diantara puluhan warga di saat seekor anak gajah berjuang keras menyelamatkan nyawa sang induk dari kematian.
Berbakti kepada Induk
Rabu (23/3), matahari baru saja beranjak dari peraduan. Hanya saja di pagi yang cerah itu warga Komplek Perumahan Guru Cendana, Jalan Nila, Duri, melihat pemandangan terbilang ganjil. Di jalan beraspal tergeletak gajah betina tak berdaya. Sementara itu sekitar lima meter dari sang induk, mata elang Lintang Talang -nama anak gajah berusia delapan bulan- menyapu bersih ke sekitar tempat sang induk terbaring . Namun sesekali, tatapan mata anak gajah itu hanya tertuju ke satu titik, lain waktu berjalan mengelilingi sang induk lazimnya seorang pengawal menjaga dan melindungi tamu VVIP.
Sebelumnya, Selasa (22/3) sore hingga sekitar pukul 22.00 WIB sang induk masih terlihat sehat “Waktu malam hari, kami masih melihat gajah itu sehat. Ya, kita berjaga-jaga takut binatang itu mengamuk,” terang Hairul salah seorang warga, memang beberapa hari belakangan Dumai Pos berada tak jauh dari hewan ini.
Masih kata Hairul, kondisi itu pun berubah sekitar pukul 04.00 WIB “Bedebum...” terdengar suara benda keras jatuh ke bumi. Sebagian warga mendengar suara itu, namun sebagian mereka lebih memilih tetap berada di dalam rumah, karena takut amuk gajah atau tertidur pulas menjemput mimpi di balik selimut.
“Tampaknya suara itu berasal dari induk gajah yang tumbang disertai pekikan cukup keras,” kisah Hairul Rabu sekitar pukul 07.00 WIB Dumai Pos kembali ke lokasi mengamati perkembangan gajah itu. Entah dorongan dari mana,
akhirnya kami memutuskan menelpon salah seorang pejabat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Wilyah III Provinsi Riau menceritakan kondisi induk gajah yang masih tergeletak di jalan.
Dengan dalih minimnya dana, pejabat ini mengatakan bahwa gajah itu akan sembuh suplemen gajah itu nantinya sembuh, tidak ada biaya untuk membawa dokter dan peralatan ke sana,” jawab sang pejabat dibalik telpon seluler saat Dumai Pos menghubunginya. Waktu pun berjalan, jarum pendek penunjuk waktu tepat di angka 8, sementara jarum panjang di angka 12, sang induk masih terbaring lemah tergeletak.
Entah desakan dari mana datangnya Dumai Pos pun menghubungi PT CPI meminta perusahaan Amerika itu membantu penanganan gajah betina ini. PT CPI mau membantu penanganan gajah itu. Mereka menjamin semua biaya termasuk mendatangkan dokter dan menurunkan satu unit mobil pemadam kebakaran untuk menyiram hewan berbelalai panjang ini.
Lintang terus berada disamping sang induk bersuara seakan-akan memberi support agar gajah betina itu berdiri bangun. Memang, antara pukul 08.00 WIB hingga 10.00 WIB, meski dalam kondisi terbaring bekerja keras menyeret badan yang tambun ini.
Alhasil tubuh gajah itu berputar -masih dalam terbaring- hingga mencapai sudit 90 derajat, dan Dumai Pos mencatat induk Talang ini mampu 16 putaran Kendati Talang hanya hewan namun pengabdian dan bakti kepada sang induk –mungkin mengalahkan manusia. Selain berusaha melindungi sang induk dengan jalan mengejar orang yang ingin mendekat, gajah ini menyuapi makan sang induk.
Tapi entah mengapa ‘zona larangan mendekat’ yang diterapkan Talang tak berlaku bagi Dumai Pos, kami terus berada disisi sang induk. Menariknya, saat menyiramkan air ke induk, kamera dititipkan kepada salah seorang wartawan untuk mengambil momen berharga itu . Tanpa dikomando, Talang langsung mengejar ‘kuli disket’, kami hanya bisa tersenyum melihat sikap protek berlebihan yang dilakukan anak gajah ini.
Talang masih berada di sisi sang induk, anak gajah berumur delapan bulan itu terus mengamati dan berjalan berapa langkah ke tepi jalan seakan-akan memberi ruang gerak untuk gajah betina untuk terus berusaha berputar dan bangkit. Jarak Dumai Pos dengan anak dan ibu gajah itu sekitar dua meter, sehingga dengan jelas terekam peristiwa dramatis bagaimana upaya anak gajah ini menyelamatkan sang induk - sempat diabadikan dalam foto seperti Talang mencari makanan untuk sang induk.
Namun dari sekian momen mengharu birukan bagaimana upaya Talang melindungi dan merawat dan mencari asupan demi menyelamatkan nyawa sang induk, momen saat anak gajah itu memecahkan kelapa muda yang dilempar salah seorang warga, dengan menggunakan belalai Lintang menggeser buah yang dikenal mampu menetralisir racun. Selanjut anak gajah ini memecahkan kelapa menggunakan mulut sebelum diberikan ke sang induk, menjadi momen paling fenomenal.
Lain waktu, anak gajah itu mengambil rerumputan dan ranting-ranting pohon yang berada di sekitar, dan disuapkan ke mulut sang induk melalui belalai yang masih mungil.
“Binatang saja sayang kepada induknya, mengapa anak manusia membangkang (melawan) ke orang tuanya,” komentar seorang pria berambut kriting yang pagi itu megendong anak yang berjarak sekitar empat dari Dumai Pos, melihat pengabdian luar biasa Lintang kepada sang induk.
Tindakan luar biasa itu dilakukan Talang hingga sang induk bangun setelah mendapatkan suplai air yang cukup banyak dari mobil pemadam kebakaran (fire yang dikirim PT CPI Perjuangan Lintang yang terus melindungi sang induk saat dalam kondisi lemah tak berdaya, ternyata tak luput dari pengamatan Mentri ESDM, Darwin, bahkan sang menteri itu menulis kisah mengharu birukan Lintang ini dalam buku barunya yang belum diperbanyak. Syahdan, buku tersebut baru dibagikan kepada 10 perusahaan Migas terbesar di dunia.
Mungkin sebelum mati, induk Lintang menitipkan anaknya kepada PT CPI untuk dirawat menjadi gajah jantan yang tangguh. Paling tidak pesan itu terekam oleh sang menteri yang dituangkan dalam buku tersebut.
Keracunan
Malam mulai merayap, waktu menunjukan sekitar pukul 19.00 WIB, keberadaan Lintang dan sang induk membuat macet Jalan Lintas Dumai-Duri, Dumai Pos kembali menghubungi salah seorang pejabat BBKSDA jawaban mereka bahwa tim sudah turun. Hanya saja kami tidak melihat tim itu
Ketika tenaga medis BBKSDA Riau dan anggota WWF yang terus memantau perkembangan induk gajah ini mengaku sangat sulit menjauhkan Lintang dari sang induk Berbagai cara pun dilakukan agar anak gajah menjauh dari tubuh sang induk yang sudah tergeletak untuk kedua kalinya
Tapi mereka tidak ketinggalan akal, mereka mencoba memberikan makanan serta mengajak Lintang bermain. Akhirnya, tenaga medis pun dapat memberikan infus kepada sang induk. Kondisi induk gajah kian melemah dan tidak tertolong. Sayang, Sabtu (26/3) sekitar pukul 18.15 WIB gajah itu pun mati.
Pekikan suara Lintang terdengar beberapa kali seperti memanggil sang induk agar bangun kembali. Bahkan saat terikatdi pohon pun anak gajah itu terlihat berusaha menarik-narik tubuhnya ke dekat sang induk yang sudah mati. Hingga saat dijemput Bangkin gajah jinak dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas pukul 23.00 WIB, Lintang masih menoleh ke belakang, dan berhenti sesaat. Terlihat dari raut muka yang nampak sedih.
Tampaknya, Bangkin, si gajah jinak, tidak ingin membiarkan Lintang larut dalam kesedihan gajah itu terpaksa memukul Lintang dengan belalainya agar berjalan terus dan naik ke atas truk yang akan membawanya ke PLG Minas untuk hidup bersama gajah jinak lainnya.
Ahad (27/3) sekitar pukul 09.00 WIB, delapan orang dari Tim BBKSDA dan WWF Riau mengotopsi induk gajah tersebut. Selama proses otopsi berlangsung BBKSDA meminta PT CPI untuk mengondisikan agar siapa pun yang tidak berkepentingan dilarang masuk ke lokasi otopsi, kecuali yang berkepentingan.
“Tidak semua orang sanggup melihat proses otopsi gajah ini Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan hanya akan memperlambat pekerjaan kami, jadi kami mohon jangan masuk hingga kami selesai otopsi,” kata Hutomo kepala Wilayah III BBKSDA Riau kala itu.
Berbagai organ tubuh gajah yang diambil dalam potongan kecil dikirim ke laboratorium Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) Regional II di Baso, Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar). Pasca otopsi, dengan menggunakan satu unit elevator milik PT CPI, bangkai gajah dikuburkan disekitar Hutan Talang.
Selang beberapa hari, Jumat (1/4), seekor gajah betina ditemukan mati, dan sudah mengeluarkan cairan darah yang busuk di area perkebunan sawit milik PT Darmaali Jaya Lestari Kilometer 11 Desa Petani, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis. Sayang bangkai gajah tersebut tidak langsung diotopsi oleh pihak BBKSDA Riau, karena terkendala dana
Setelah puluhan ribu lalat dan belatung menggerogoti bangkai gajah yang sudah membengkak dan kaku, barulah dilakukan terus mengeluarkan cairan nanah di bagian perut, kepala, ekor dan leher. Aroma tidak sedap pun menyebar mengelilingi area perkebunan tersebut
Dari kedua hasil otopsi gajah tersebut, Humas BBKSDA M Zanir mengatakan kedua bangkai gajah tersebut positif keracunan. “Gajah itu mati karena positif ditemukan unsur ammonia dan organo chlor yang bersifat toksik atau racun. Unsurnya dalam jumlah kecil yang tidak langsung mematikan. Sama halnya dengan gajah mati di perkebunan PT Darmaali,” kata Humas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau, M Zanir.
Kebesaran Tuhan
Tak kenal maka tak sayang, pribahasa ini berlaku dengan gajah. Paling tidak, mempelajari kehidupan hewan itu menimbulkan ketakjuban tersendiri. Meski berbadan besar. Namun terik matahari menjadi ancaman serius
.Untuk menghindari rasa haus, setiap hari se-ekor gajah harus mencari sumber air. Namun demikian, hewan ini mampu berjalan sejauh 50 Km tanpa perlu istirahat, dan sanggup berkelana selama tiga hari tanpa meminum air.
“Tubuh mereka telah diciptakan dengan sangat sempurna dan dengan mempertimbangkan berbagai perhitungan yang sangat cermat agar mereka dapat bertahan dalam lingkungan mereka,” ulas Syam di lain waktu. Menurut data WWF, lanjut dia, populasi gajah Sumatera saat ini hanya tinggal 44 kelompok atau diperkirakan 2.800 hingga 4.800 ekor. Untuk Riau sendiri terdapat sebelas kelompok kawanan gajah, dua diantaranya berada di Kecamatan Mandau dan Kecamatan
Pinggir, Kabupaten Bengkalis. Dua kelompok inilah yang rutin ‘bertamu’ ke pemukiman penduduk bergiliran seakan-akan akrab sekali dengan masyarakat
Pengamatan Dumai Pos di lapangan, rute perjalanan hewan berbelalai ini tidak pernah berubah, selalu tetap di jalur lintasan tertentu. Hebatnya, ini berlaku sejak dahulu. Rute tetap gajah dimulai dari Kecamatan Pinggir lalu menuju lapangan helikopter milik PT CPI, Komplek Talang, Krakatau dan Leuser. Setelah itu Kopelapit Jalan Aman di Kelurahan Pamatang Pudu, lalu menuju Desa Petani, Teggar, Simpang Lima, Belading, Desa Balai Makam, dan Kulim Kelurahan Balai Makam.
Sesampainya di Kulim, gajah-gajah kembali berputar menuju Kecamatan Pinggir, begitulah seterusnya Gajah-gajah ini terkadang bersatu dalam satu kelompok besar atau berpencar dengan anggota 5 hingga 25 ekor seperti terekam kamera Dumai Pos, Februari lalu. Hanya saja, jadual singgah kawanan gajah ini tidak tetap, berkisar tiga hari sampai dua minggu untuk satu lokasi Sebagai mamalia darat paling besar yang hidup di zaman ini
Gajah menghabiskan 16 jam sehari untuk mengumpulkan makanan yang sedikitnya 50 persen rumput, dedaunan, ranting, akar, sedikit buah, benih dan bunga Dari total makanan yang dilahap gajah hanya mencerna 40 persen. Makannya, mereka harus mengonsumsi makanan dalam jumlah besar, 140-270 Kg per hari. Karena 60 persen dari makanan tersebut tertinggal dalam tubuh dan tidak tercerna.
“Jika gajah dalam kondisi sakit, hewan itu tidak akan bisa mencukupi kebutuhan makanan seperti biasa. Itulah yang menyebabkan fisik semakin lemah karena kurangnya pasokan makanan wajibnya setiap hari. Bahkan gajah yang sakit pun tidak sanggup lagi mengikuti rombongan,” terang Humas BBKSDA M Zanir kepada Dumai Pos
“Jadi, kalau gajah dalam kondisi sakit, ia tidak akan bias mencukupi kebutuhan makanannya seperti biasa. Itulah yang menyebabkan fisiknya gajah semakin lemah karena kurangnya pasokan makanan wajibnya setiap hari. Bahkan gajah yang sakit pun tidak sanggup lagi mengikuti rombongan lainnya,” tambah Zanir.
Pendapat ini diaminkan anggota WWF Riau, Syam, ketika gajah tertinggal dari rombongan atau dalam keadaan bahaya, mereka akan berkomunikasi dengan sesamanya Komunikasi menggunakan suara infrasonik yang tak terdengar telinga manusia. Suara infrasonik memungkinkan gajah berbicara menggunakan bahasa khusus dengan gajah lain yang terpisah sejauh 4 Km.
“Dalam cuaca yang baik, gajah mampu mendengar panggilan yang berjarak 10 Km dengan gelombang infrasonik. Kemampuan mengagumkan ini mengungkapkan pada kita akan adanya jaringan komunikasi yang menjangkau kawasan sangat luas. Perangkat komunikasi khusus ini merupakan keahlian menakjubkan yang diciptakan Allah untuk gajah,” jelas Syam
Cerdas dan Bersahabat
Lihat saja, kehidupan gajah jinak di Hutan Tahura, PLG Minas. Pada awalnya gajah-gajah yang ada disana juga merupakan gajah liar yang kemudian diajak berteman oleh pawangnya. Tidak ada jampi-jampi dan bacaan-bacaan khusus yang disemburkan para pawang kepada gajah itu, hanya dengan kedekatan hati saja mereka saling berkomunikasi
sehingga gajah tidak ada reaksi menantang dari gajah-gajah tersebut
Si Bangkin, gajah liar yang ditemukan di Bangkinang, kemudian digiring ke PLG Minas Menurut warga, gajah itu meresahkan kampung mereka, tapi cerita masyarakat yang terlalu membesar-besarkan. “Buktinya sampai sini, gajah itu sama sekali tidak beringas, malah Bangkin termasuk gajah jantan yang pintar.
Makanya terus kita bina, begitu juga dengan gajah-gajah jinak yang lainnya Terus terang saja kami disini tidak ada sekolah pawang, malah setelah lama memegang masing masing gajah baru kami diberi pelatihan dari pusat. Kedekatan kami dengan gajah-gajah ini hanya karena perasaan dan ikatan batin saja,” kisah Tutur, pawangnya si Bangkin.
Sayang, sebagian warga menganggap kedatangan mamalia si jago makan ini adalah musibah besar yang akan mengancam keselamatan mereka. Isi kebun menjadi rata disantap kawanan gajah untuk memenuhi kebutuhan makanan yang mencapai 250 kilogram per hari.
Bahkan tidak sedikit rumah warga yang dirusak kawanan gajah hanya untuk mengambil beras , gula dan garam. “Kalau sudah musim gajah, kami sudah sedia mercon di rumah. Untuk sebulannya, biaya mercon itu sampai 7 juta rupiah Kerugian kami tidak hanya pada biaya beli mercon, tapi hasil kebun sawit kami juga rugi mencapai ratusan juta. Sampai saat ini belum ada respon baik dari pemkab Bengkalis untuk mencarikan solusi bagaimana agar kawanan gajah ini tidak menambah jumlah penduduk miskin di Mandau ini. Ini tugasnya bapak bupati,” tegas Togar saat melakukan pengusiran kawanan gajah beberapa waktu lalu di Desa Petani.
Salah satu daerah yang sangat rawan konflik gajah dan manusia ini adalah Desa Petani, Kecamatan Mandau, Bengkalis. Gara-gara koflik ini, nama desa sudah tidak asing lagi di tanah air. Bahkan sang Kepala Desa (Kades) menjadi terkenal di beberapa media nasional, akibat perseteruan manusia versus gajah yang kerap terjadi di wilayahnya. Ratusan hingga ribuan hektar perkebunan masyarakat habis dilahap kawanan gajah yang setiap harinya datang mencapai dua puluhan hingga tiga puluhan ekor.
“Kami sudah bosan menangani konflik gajah yang sering terjadi di Desa Petani ini. Surat pengaduan kepada pemerintah setempat sudah sering kami sampaikan ke Bupati Bengkalis, Gubernur Riau bahkan juga pernah mengirimkan surat kepada RI 1 tentang permasalahan gajah yang terus saja menghantui warga. Tetapi sampai saat ini belum ada respon,” kata Rianto Kades Petani.
Gajah-gajah liar kini terlihat semakin berani dan tidak merasa asing lagi berhadapan dengan manusia. Kapan saja kawanan gajah bisa datang ke pemukiman masyarakat, baik rumah pribadi maupun warung harian untuk mengambil beras , garam dan gula. Tidak hanya malam, pagi dan siang hari pun kawanan gajah muncul.
Di Kecamatan Mandau dan Pinggir, hidup dua kelompok gajah yang masing-masing kelompok beranggota lebih 40 ekor. Setiap kelompok gajah dipimpin induk betina yang paling besar. Sementara gajah jantan dewasa hanya tinggal pada periode tertentu untuk kawin dengan beberapa betina pada kelompok tersebut.
Sedangkan gajah yang sudah tua akan hidup menyendiri karena tidak mampu lagi mengikuti kelompoknya seperti yang dilakukan si Puntung dan si Bongkok. Dua ekor gajah ini terlihat selalu jalan sendiri tanpa pendamping. Program konservasi yang bias mempertemukan kebutuhan manusia dan gajah harus menjadi perioritas utama. Survei-survei dan studi sosioligis perlu dilakukan di sekitar tempat hidup gajah untuk mencatat/mendeteksi adanya konflik antara gajah dan manusia. Gerakan anti perburuan liar sendini mungkin harus menjadi hal yang konkret.
Dari segi hukum, tindakan tegas dan keras harus ditegakkan bagi para pemburu gajah. “Masyarakat yang hidup berdampingan dengan gajah idealnya harus memperoleh keuntungan dari adanya gajah-gajah tersebut tanpa mengurangi kelangsungan hidup dari gajah tersebut. Mereka dapat dipekerjakan dalam manajemen kawasan lindung, misalnya sebagai tenaga teknis lapangan. Dan apabila kawasan tersebut dapat dikomersialkan melalui kegiatan pariwisata yang merupakan sumber pendapatan, dana itu sebagian dapat juga dialokasikan kepada masyarakat setempat,” tutur Direktur Eksekutif Lembaga Koservasi Flora dan Fauna Riau, Drh Afrizon Taher beberapa waktu lalu.
Kalau gajah di pandang sebagai sumber pendapatan dan kesejahteraan, sebuah symbol yang disediakan oleh hutan dalam
hubungannya dengan hasil dan manfaat yang bisa digunakan, maka gajah dapat diselamatkan Wakil Bupati Bengkalis, Drs H Suayatno mengatakan, konflik gajah dan manusia ini sudah sangat kompleks sehingga penyelesaian persoalan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemkab Bengkalis saja, karena ini adalah persoalan nasional. Perlu kordinasi dengan instansi lainnya yang sangat terkait dengan kehidupan gajah ini.
“Kemungkinan aka nada upaya untuk mengembalikan SM Balai Raja yang sekarang sudah semakin kecil dari luas awalnya. Tentunya untuk penyelesaian itu tidak membutuhkan waktu yang sangat cepat, perlu proses yang sangat panjang,” katanya saat dikonfirmasi Dumai Pos, Jumat (16/6).
Terlepas dari semua itu, sadar atau tidak ‘bertamunya’ kawanan gajah itu pada dasarnya ulah tangan manusia. Paling tidak, perambahan hutan besar-besaran, serta alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit membuat pasokan makanan berkurang alih-alih ekosistem terganggu.
Al hasil, atas nama perut, kawanan gajah itu keluar dari habitat mencari makanan. Kata mutiara masyhur dari Mahatma Gandhi benar adanya: “Alam mampu mencukupi penghuni dunia, namun alam tak mampu mencukupi keserahahan manusia”.
Kondisi ini diperparah dengan berdirinya sejumlah pemukiman di daerah lintasan tradisional kawanan gajah. Padahal kenyataannya, mamalia cerdas ini tidak pernah menantang manusia, apalagi disebut bermusuhan. Lazimnya makhluk Tuhan, kawanan gajah itu juga butuh tempat tinggal untuk bisa bersosial dengan kelompok, makan dan minum dan lainnya. Wajar, jika hewan yang dikenal sensitive ini merampas apa yang menjadi hak yang diperoleh jauh sebelum bani Adam menjejakkan kaki di wilayah itu.
Menariknya, tanpa disengaja Dumai Pos kerap bersama tim menyusuri jejak hewan berbelalai panjang di hutan belantara.
Pertemuan tersebut seolah-olah seperti sebuah ‘reuni’ sahabat karib yang telah lama tak berjumpa. Sehingga saat berjumpa gajah, kami saling berpandang-pandangan dan berkomunikasi lewat hati, pikiran, perasaan serta bahasa tubuh.
“Hi... apa kabar?, aku Ira temanmu, Jika diizinkan aku cuma mau mengambil foto mu,” kata Dumai Pos. Gerakan unik dan sangat menarikpun seperti diperagakannya walau hanya sebentar .
Kecerdasan gajah teruji saat Dumai Pos bertemu Lintang di LPG Minas setelah berapa waktu tidak bertemu pasca anak gajah itu kehilangan induk, dengan manja-nya sempat menginjak kami saat diberi aba-aba. “Ayo, makan dulu Lintang,” ujar Dumai Pos.
Namun injakan itu dilepas Lintang saat Dumai Pos berkata, “Ok, kita jalan, makannya nanti.”
Bisa jadi, Lintang ingin mengajak Dumai Pos melihat habitat baru di LPG Minas, Memang, selama berada di situ, kami memandikan anak gajah malang ini, selain memberi makannya. Ya, pengalaman luar biasa.
Memang, saat bertemu, entah apa yang ada dibenak Lintang gajah itu tak ubahnya bertemu dengan sahabat yang telah lama dirindukan. Ya, saat berkomunikasi Dumai Pos hanya menggunakan bahasa universal, yakni penuh nilai-nilai persahabatan dan saling memberi perhatian yang dimanifestaskan dalam bentuk gerak tubuh dan lisan. Tidak ada yang merasa superior diantara satu dengan yang lain. Karena pada dasarnya gajah mempunyai hak untuk hidup, berdampingan dengan mahluk lain, tidak terkecuali dengan manusia.***
Cewek-cewek Panggilan di Penjara Tj. Gusta
Cewek-cewek Panggilan di Penjara Tj. Gusta (1)
Spesial Dipasok untuk Kalangan Napi Berduit
Pelacuran memang setua peradaban manusia. Begitu juga di rumah-rumah penjara Tanjung Gusta, Medan. Meski lokalisasi pelacuran tidak ada, tapi bagi Napi atau tahanan yang butuh layanan seks komersil, 'banyak jalan' guna menghadirkan cewek pemuas birahi. Tentu, secara ilegal. Nah, lewat investigasi 2 pekan terakhir, POSMETRO menemukan mucikari yang rutin memasok pelacur-pelacur muda ke 'hotel prodeo' itu. Inilah laporan berserinya.
Oleh: Ahmad Faisal
Adalah Rani (25) penguak temuan yang lama teryakini ini. Demikian sosok menggairahkan itu mengenalkan nama komersilnya. Meski perkenalan digaransi seorang tahanan teman POSMETRO, janda bertubuh montok itu berpuluh kali menolak diwawancarai. Ia merasa (wawancara) itu bisa menghancurkan praktiknya. Beruntung pendekatan tak kenal nyerah dari wartawan Anda, membuat Rani akhirnya 'mengangkat bendera putih'.
"Tapi janji, (wawancaranya) tak ada main-main rekam, apalagi difoto-foto, identitas saya juga tolong dirahasiakan, bisa mampus aku kalau orang penjara tahu," Rani mengajukan syarat mutlak. Dan tanpa tedeng aling-aling, "Aku diboking berapa?" Dia menodong tarif waktunya yang dibajak guna wawancara. "Ok, nanti malam kita jumpa," sambungnya via SMS, Selasa (8/3) sore, usai tarif boking disepakati.
Pemuas Nafsu Merangkap Mucikari
Bisnis 'lendir' dalam bui yang disetir Rani rupanya buntut kehancuran rumah tangganya. Dia ditinggal suami. Itu terjadi setahun lalu. "Tak perlu tahu sebabnya," vonisnya ketika POSMETRO coba mengusut sebab perceraiannya. Karena itu, tak diketahui keberadaan mantan suaminya. Cewek berdada dan pinggul besar ini rupanya selalu sakit hati jika dipancing mengenang masa lalunya. Karena itulah dia selalu berupaya meredam dan melupakan noktah hitam perkawinannya.
Sejak menjanda, wanita berdarah Aceh ini hidup bersama putra semata wayangnya, berumur 10 tahun. Mereka tinggal ngontrak di kawasan Pasar VI Medan Marelan. Di rumahnya, beberapa cewek muda dilaporkan acap terlihat. Cewek-cewek itu dipastikan tak punya hubungan ikatan darah dengan Rani. Bukan saudara, bukan pula family.
"Itu teman-temanku," jawab Rani, ketika sosok-sosok menggoda yang diduga kuat 'anak-anak didiknya' itu diusut. “Bentar ya,” tutupnya sambil berlalu ke kamar, ketika disambangi, Selasa (8/3) malam itu. Rani berganti busana.
Di rumahnya yang kecil, tak banyak terlihat perabot. Bahkan idealnya rumah, tak terlihat kursi dan meja tamu di ruang utama. Hanya karpet plastik, alas duduk setiap tamu yang datang. Selain ranjang, di rumahnya hanya ada sebuah pesawat tivi Samsung 21 Inchi, kulkas 1 pintu, lemari pakaian 3 pintu, 1 kipas angin, buffet mini berdebu berisi 8 gelas hias, serta 3 hiasan dinding bermotif religi.
Meski itu semua bernilai 'tak seberapa', awalnya Rani bahkan sama sekali tak punya harta saat memulai hidup sebagai single parent atau sebelum dia menjadi produsen pemuas nafsu syahwat merangkap mucikari. Ya, tak disangkal: hasil dari bisnis syur di balik jeruji perlahan mengangkat derajat ekonomi Rani. "Yuk," ajaknya, usai mengganti baju tidur tipisnya yang tadi jelas membayang ditimpa sinar lampu.
Komisi Rp200 Ribu/PSK
Begitulah. Di sebuah lokasi, mucikari muda itu pun mulai cerita. "Rumah (sewa) itulah awalnya," Rani menyiratkan 'lounching' praktiknya menyetir bisnis memuaskan syahwat para tahanan. "Setahun lalu rumahku itu digrebek polisi," Rani membuka tabir awal memasok PSK ke penjara.
"Dua temanku (1 cewek, 1 bencong, red)," sambungnya, "ditangkap pakai sabu. Aku pun jadi ikut berurusan (dengan polisi) walau akhirnya aku tak ditangkap (kabarnya hasil tes urine Rani saat itu negatif, red)." Pun lolos jerat bui, Rani mengaku bukanlah sosok bersih dari Narkoba. Ceritanya, sejak ditinggal suami lalu bergaul dengan bencong dan cewek-cewek nakal, hingga kemudian mulai sesekali jual diri, Rani sadar tak hanya mendapatkan uang dari hasil dagang kemaluannya. Di dunia 'kotor' itu dia juga menemukan hobi baru yang tak kalah membahayakan, ya... mengonsumsi Narkoba. Hampir semua cewek yang terjun dalam praktik prostitusi juga menikmat itu.
Bagi Rani, dengan memakai Narkoba, pikirannya hanya berkutat pada kesenangan semata. Itu artinya benaknya bersih dari bayang-bayang kelam perkawinannya. "Tapi sabu aku kurang mau, karena rasaku menyiksa, tak bisa tidur. Kalau on (pesta ekstasi di diskotik, red) aku suka. Apalagi kalau (on) di Super (Diskotik), enak obatnya (ekstasi, red)," akunya. Adakah narkoba punya benang merah dengan awal terciptanya bisnis syahwatnya di penjara Tanjung Gusta? Ya. Begini tali penyambungnya.
Pasca 2 temannya ditangkap akibat nyabu, Rani kemudian ketiban mendapat job menyuplai cewek-cewek PSK (pekerjai seks komersil) ke penjara Tanjung Gusta. Janda ngaku suka berbagai adegan seks ini langsung tertarik karena duit hasil kerja gampang itu lumayan menggiurkan. Dari setiap 1 PSK yang diantarnya untuk teman tidur Om Napi, Rani bisa mendapat komisi Rp200 ribu. Bayangkan jika dia mengantar 10 PSK. Itu belum lagi uang tip dari Napi atau tahanan yang senang tak kepalang terhadap cewek suguhan Rani. Dan intinya, tugas Rani hanya menyiapkan para PSK lalu mengantarnya sampai ke dalam penjara. Itu saja.
Nah, bisnis yang akhirnya nyaris rutin membuatnya dapat order saban pekan itu rupanya berkat pergaulan si bencong (teman Rani yang tertangkap, red) dengan sejumlah tahanan berduit, saat 'wanita jadi-jadian' itu menjalani masa hukuman di Tanjung Gusta. Jadi sesungguhnya, bencong itulah awal perantara terciptanya bisnis prostitusi dalam penjara ini. Pada Rani, Waria itu menyerahkan segala urusan penyediaan PSK. Rani dan si bencong memang berteman akrab.
So, bagaimanakah modus operandi Rani saat memasok PSK-PSK koleksinya ke dalam penjara sesak penghuni itu? Sudah berapa lama dia menjalankan bisnis itu? Adakah tahanan kere keciprat rezeki praktik itu?
Seperti apa pula bentuk keterlibatan oknum sipir? (bersambung)
Cewek-cewek Panggilan Penjara Tj. Gusta (2)
Tanpa Ranjang & Bantal Tarif Kamar Rp300 Ribu
Tanjung Gusta terkadang disebut miniatur Alcatraz, penjara seram paling kesohor di Amerika. Itu karena 2 penjara tersebut sama-sama banyak dihuni penjahat yang gol untuk kali kedua atau ketiga. Bedanya, Alcatraz dihuni banyak pembunuh -seperti Al Capone, raja kejahatan dari Chicago, sementara Tanjung Gusta (kayaknya) diisi banyak bandit sabu-sabu. Nah, napi kasus ‘si putih’ itulah yang sering memboking pelacur-pelacur pasokan Rani (25).
Oleh : Ahmad Faisal
Tak disangkal: eksisnya bisnis prostitusi di balik bui Tanjung Gusta adalah buntut pengawasan yang lemah. Juga akibat penegakan standart moral yang longgar. Itulah yang membuat ‘muntahan’ kafe-kafe remang kawasan Marelan mudah masuk ke sana. Ya, cewek-cewek pasokan Rani sebelumnya primadona sejumlah kafe esek-esek.
Pun ‘kelas’ kafe remang, bukan berarti para pelacur itu berparas tak menggairahkan. Soal wajah, apalagi body, Rani mengaku selalu ketat melakukan ‘editing’. Demi kesenangan para konsumen, seleksi fisik yang ketat dilakukannya sejak kali pertama mendapatkan bisnis ‘lendir’ ini. Bahkan selain 2 syarat kasat mata itu, Rani juga melakukan seleksi non fisik bagi para calon ‘anak didiknya’. Seperti apa?
“Mereka harus punya naluri seks yang menggebu-gebu dalam waktu yang singkat,” jawab Rani, mucikari bohay itu. “Itu harus karena mereka bukan ‘main’ di (kamar-kamar) hotel yang dingin ber-AC dan ranjangnya empuk. Bukan. Tapi (mereka ‘main’) di dalam kamar-kamar penjara, yang tentu panas,” terangnya.
Kamar-kamar ‘eksekusi’ itu, imbuhnya, “Ya ruang-ruang untuk berhubungan intim para tahanan. Tapi kadang bisa juga ruang-ruang lain. Yang jelas, tak ada tempat tidur, bantal juga tak ada. Ya ‘mainnya’ di atas karpet. Tapi pernah juga (cewek) bawaanku diajak (‘ho-oh’) ke kantor (ruangan kantor penjara, red).”
Meski kamarnya kecil bahkan tanpa ranjang, jangan kira tarif sewanya murah. Tarif kamar hotel mewah pun bisa kalah. Berapa? Rp.300 ribu/3 jam.
“Mulai setahun lalu. Bulan berapa ya... tak ingatlah,” Rani menyebut awal kali pertama dia memasok cewek-cewek PSK ke penjara Tanjung Gusta. “Tapi aku masih ingat siapa aja 6 cewek yang kubawa pertama kali itu. Mala (23), Shanty (20), Tina (18), Rika (20), Ema (21), Dina (18). O, Dina belum, Vina (22) yang (mulai sejak) pertama,” sambungnya, sedikit meralat.
Tak ada modus spesial saat Rani meloloskan cewek-cewek koleksinya ke rumah penjara yang dijaga berlapis-lapis itu. Semua berlangsung biasa, lazimnya para pengunjung tahanan. “Biasa aja,” bebernya, “ya (kami) daftar dulu di loket depan, nyerahkan KTP, trus di pintu pertama barang-barang (kami) diperiksa. Paling ya karena peraturan (soal jumlah tamu) maksimal 3 orang (per kelompok), ya tinggal atur kami terpisah-pisah saja. Gampang aja.”
Ya, prostitusi itu berlangsung siang hari. Bukan malam. Dan Sabtu adalah hari paling sering bagi Rani memasok cewek-cewek pemuas birahi itu. Lalu apa sebab hingga proses masuk para pelacur itu bisa terlihat bak pengunjung biasa? Pada siapa duit sewa kamar, juga biaya boking pelacur, disetor? Adakah bisnis syur ini juga bisa mengalami stagnasi? (bersambung)
Cewek-cewek Panggilan Penjara Tj. Gusta (3)
Pasokan PSK Terhenti
Gara-gara Khatibul
Bisnis syur ini kadang kala juga mengalami stagnasi. Seperti terjadi selama Februari kemarin. Tapi eits, terhenti bukan karena 'dagangan' retail ‘anak-anak didik’ Rani mulai jarang pembeli.
Laporan: Ahmad Faisal
“Om itu nafasnya sudah seperti kereta api,” Rani lalu masuk pada sesi cerita ‘terpanas’ dari bisnis ‘lendir’nya, saat kali pertama -dari tak terhitung berapa kali memasok cewek-cewek ke penjara Tanjung Gusta- dia pun turut diboking seorang tahanan berdarah Tionghoa. Ya, saat memasok 8 PSK di buritan Januari 2011, mucikari bohay berumur 25 tahun itu juga ditaksir.
Begitulah. Di kamar pengab tanpa ranjang, sambungnya, “Tangannya memegang bahuku yang sudah terbuka. Ia lama mengusapku lembut. Aku menutup mata. Naluri kewanitaanku bangkit. Jantungku dag dig dug. Tapi aku diam tak bereaksi. Bukan munafik. Sebelum menjadi penyuplai cewek-cewek ke penjara, sudah sering aku (berhubungan intim) dengan banyak cowok. Tapi untuk ‘main’ dengan tahanan di kamar penjara, sumpah... itulah pengalamanku pertama kali.”
Rani tak bereaksi walau jantungnya berdegup kencang karena ia yakin: para tahanan yang memboking cewek-cewek bawaannya adalah tipe pria kasar dalam bercinta. Dugaannya dilatari jarangnya para lelaki terkurung itu menyalurkan hasrat seksnya, juga suasana penjara yang penuh dengan nuansa kekerasan.
Rupanya Rani salah duga. “Om (yang membokingku) itu ternyata romantis. Dia tak langsung grasa-grusu, seperti banyak cowok yang sudah lama tak menyentuh wanita. Om yang katanya dipenjara karena kasus sabu-sabu itu main slow karena ingin menunjukkan kematangannya sebagai lelaki,” lanjut janda bertubuh proporsional ini. Inilah ringkasan adegan purba di kamar penjara itu, usai bahasa oral Rani yang vulgar disemir di sana sini.
“Setelah bermain di bahuku, dipegangnya daguku. Lalu pelan-pelan aku didekatkannya ke wajahnya. Ya, aku dilumatnya. Sampai di sini, aku masih berlagak seperti anak lugu ‘yang tak pernah gituan’. Tapi saat kemudian dia mulai bermain-main di seputar wilayah sensitifku, di situlah aku mulai tak tahan. Aku sudah tak tertahankan. Aku bereaksi. Selanjutnya giliranku yang melakukan permainan di wilayah sensitifnya. Dan saat aku makin tak tertahankan lagi, aku naik ke tubuhnya. Kupegang kendali sampai permainan itu tuntas tas tas... Kami mandi keringat.”
Meski (mengaku) hanya kali itu diboking tahanan, tapi Rani jujur tak bisa melupakan aksi lawan mainnya di kamar penjara itu. Apalagi sejak memasok ‘barang-barang koleksinya’ di siang ujung Januari itu, bisnis prostitusinya mendadak berhenti. Sebuah peristiwa heboh di penjara jadi pemicunya. Ingatkah Anda dengan aksi kabur seorang tahanan yang berhasil mengelabui para sipir dengan modus menumbalkan teman penjenguknya -menjadi penggantinya di penjara, pada Selasa siang 8 Februari (2011) lalu?
Ya, gara-gara aksi kabur tahanan bernama Khatibul –bahkan hingga sekarang belum ditemukan- itu order memasok cewek-cewek ke rumah penjara itu pun terhenti. Akibat kasus yang ‘menampar’ institusi rumah penjara itu, POSMETRO memang menemukan pengawasan –mendadak- super ketat pada semua pengunjung dan ribuan tahanan di situ.
Pengawasan ketat berlapis-lapis bahkan nyaris membongkar misi investigasi membongkar praktik prostitusi terselubung ini saat wartawan Anda mengunjungi rumah penjara itu pada Jumat siang 25 Februari 2011. Tapi penjagaan super ketat itu hanya sesaat. “Ya ada sekitar 5 minggulah tak ada panggilan (ke penjara), sekarang baru mulai (bisa memasok) lagi,” kata Rani terlihat sumringah. Bagaimana aktivitas Rani dan ‘anak-anak didiknya’ saat ‘libur kerja’ selama 5 pekan itu? (bersambung)
Cewek-cewek Panggilan Penjara Tj. Gusta (4)
Selain Rani, Sedikitnya Ada 2 Mucikari Lain
Desain bangunan yang berkelok-kelok pada 9 blok rumah penjara Tanjung Gusta menjadi pemulus geliat prostitusi terselubung di sana. Ini bukan top secret. Semua (penghuni) sudah tahu sama tahu.
Laporan: Ahmad Faisal
Pasca heboh aksi kabur Khatibul, terhitung 3 kali wartawan Anda bolak-balik menembus 6 lapis pemeriksaan super ketat guna masuk rumah penjara Tanjung Gusta. Kunjungan pertama terjadi pada Jumat siang 25 Februari 2011. Di sini, karena wartawan Anda lupa membawa KTP, pemeriksaan identitas (oleh petugas) terpaksa dicatat lewat kartu pers koran ini. Itu pula yang nyaris membongkar misi investigasi membongkar praktik pelacuran di balik terali besi ini.
“Apa tujuan kunjungan ke sini, Pak,” tanya petugas di loket 1, dengan wajah tampak tak bersahabat, sebelum meminta identitas awak koran ini.
“Mau mengendus jejak (pelarian) Khatibul,” sigap POSMETRO sambil menyurungkan id.card harian ini, dan jawaban singkat itu kontan menyetop ‘lika-liku birokrasi njelimet’, seperti dialami banyak pengunjung lain.
“Kenal dengan Johasman (di POSMETRO MEDAN), Pak?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada dan wajah tak lagi menakutkan.
“Kenal.” Bak jalan tol, wartawan Anda pun melenggang masuk tanpa lagi ‘dihambat’ birokrasi pemeriksaan yang njelimet.
Kunjungan kedua, dengan tampilan sedikit diubah dan memakai topi pet, terjadi besoknya (Sabtu siang 26 Februari). Kali itu tentu membawa KTP dan menanggalkan identitas kewartawanan. Tapi masuk dengan ‘cara biasa’ itu rupanya mengingatkan koran ini pada sosok-sosok tersangka saat menjalani proses introgasi yang tak jarang berbuntut kekerasan.
“Mau menemui siapa?!” introgasi dimulai.
“Iwan, Pak, tahanan di blok 3.”
“Siapa Anda (Iwan) itu?!”
“Family, Pak.”
“Family bagaimana!?” pertanyaan bernada mencurigai.
“Eee... gimana ya, agak jauh juga sih (hubungan kami secara saudara).”
“Anda jangan bohong!” gebrak petugas di loket itu.
“Lho buat apa bohong. Gini, ringkasnya, kakek kami itu sepupuan. Kalau tak percaya, tanya aja dulu sama dia (Iwan, red) di dalam.”
“Urusan apa nemui dia?” introgasi makin mendalam.
“Saya mau nanya soal (mesin) shinsaw punya dia yang tak lagi terpakai, apakah dijualnya, karena saya mau membeli shinsaw dia itu, Pak.” Beruntung jurus (dalih) ‘shinsaw’ itu berhasil membuat si petugas yakin hingga dia tak lagi bertanya ini itu.
Nah, di kunjungan kali kedua pas week-end (akhir pekan, red) itulah, pandangan mata banyak orang (tahanan dan tamu) yang tumplek di ruang kunjung mendadak tertuju pada kemunculan 3 cewek muda bercelana jins dan t-shirt ketat. Sambutan terhadap trio menggairahkan itu tampak beda dibanding para tamu yang diarahkan menuju ruang bertemu para tahanan.
Tiga cewek itu, usai lolos di pintu pemeriksaan kedua, terlihat berjalan menuju sebuah bangunan berkelok di sisi kanan bagian dalam dari rumah penjara itu. Langkah 3 sosok menggoda itu dipandu seorang tamping (tahanan yang dipekerjakan, red).
“Alamak jang... tahan selera woi, ‘bajing-bajing’ kali ah,” celetuk nakal seorang tamu, blak-blakan menyebut 3 cewek itu adalah PSK yang sudah diboking tahanan tertentu. Saat dicros-check, pengakuannya itu diamini sejumlah tahanan, termasuk Iwan, sosok yang ditemui koran ini.
“Alah, semua yang di sini sudah tahu sama tahulah soal itu, hampir tiap Sabtu mereka didatangkan,” sambung lelaki diketahui bernama Ramadhan (26), warga Jl. Mayor, Pulo Brayan, Medan, dan diakui sudah sering ke rumah penjara itu guna menjenguk seorang saudaranya yang ditahan. Nah, temuan ini terjadi sebelum POSMETRO mengenal Rani (25), mucikari yang saat itu –gara-gara heboh aksi kabur Khatibul- malah (sementara) tak bisa memasok cewek-cewek PSK koleksinya ke dalam penjara.
Ternyata tak hanya Rani mucikari di rumah penjara itu. “Ya sih, yang kudengar ada 2 (mucikari) yang lain yang juga sering memasukkan cewek-cewek ke dalam penjara. Tapi aku tak kenal mereka,” aku Rani, yang baru dikenal pada kunjungan kali ketiga koran ini ke rumah penjara sesak penghuni itu. (bersambung)
Cewek-cewek Panggilan Penjara Tj. Gusta (5)
Lokalisasi Aja tak Otomatis Membuat Prostitusi jadi Legal
Laporan : Ahmad Faisal
Prostitusi itu sejatinya ilegal. Apalagi yang terselubung, seperti yang lama menjadi rahasia umum di kalangan penghuni rumah-rumah penjara di Tanjung Gusta.
Meski terkesan teori, setidaknya demikianlah mahzab hukum pelacuran di negeri ini. Pun (prostitusi) itu (ilegal) sepakat dianut, pro dan kontra tetap terjadi. Praktisi hukum Matjon Sinaga, SH yang kemarin (17/3) ditemui POSMETRO, kontan mengaku akan bereaksi bersama sejumlah teman seprofesinya, jika dalam perkembangan zaman yang semakin kapitalistis ini ada mendengar upaya kampanye terselubung guna melegalkan prostitusi. “(prostitusi jadi legal) Itu mungkin saja terjadi di zaman yang semakin gila ini.
Apalagi sekarang, tak hanya wanita yang jadi pelaku pelacuran, lelaki juga diam-diam sudah banyak. Bahkan (pelacuran) itu (banyak terjadi) di daerah-daerah (pedesaan) yang katanya pemahaman masyarakatnya soal agama lebih kuat daripada masyarakat kota,” beber Matjon di kantornya, Jl. Ahmad Yani VII, Medan.
Karena ilegal, dapatkah semua yang terlibat dalam praktik prostitusi, seperti kasus di penjara Tanjung Gusta, diancam dengan pidana? Jawabnya “Tentu saja sangat bisa,” jawab Matjon.
Apa pendukung yuridis untuk upaya pidana itu? Dia membeberkan beberapa langkah hukum terkait upaya pidana terhadap praktik prostitusi.
Upaya pidana, menurutnya, bisa dilakukan jika Pemerintahan Daerah di wilayah tempat lokalisasi atau pelacuran terselubung itu ditemukan, ada kebijakan soal Perda (Peraturan Daerah) Pelarangan Pendirian Lokalisasi.
Pun jika Perda soal itu tak ada, pendukung yuridis yang lain bisa dicari lewat beberapa pasal di Kitab Undang Undang Hukum Pidana. Bisa juga dengan menggunakan kekuatan UU No. 7 Tahun 1984 tentang Ratifikasi Konvensi Penghapusan Diskriminasi Terhadap Perempuan (Convention for the Suppresion of the Traffic to Persons of the Prostitution of Others, 1949), perdagangan perempuan, dan prostitusi paksa.
Atau juga memakai UU Pariwisata No. 9 Tahun 1990. Atau, Konvensi ILO No. 182, serta peraturan lain yang mengatur pelarangan praktik seks komersil.
Pada undang-undang atau aturan itu disebutkan, pengelolaan atau pengadaan praktik seks komersil -baik bersifat pribadi maupun yang dipersiapkan secara profesional, dikategorikan sebagai tindak pidana.
“Karena itu,” jelasnya, “jadi jika sebagian daerah di negeri ini masih mengijinkan pendirian lokalisasi, sebenarnya itu bukan otomatis membuat kegiatan prostitusi menjadi legal. Pada prinsipnya, lokalisasi itu adalah tindakan preventif
(pencegahan, red) untuk mengurangi kegiatan prostitusi itu semaksimal mungkin.”
Karena itu, jelasnya lagi, “Pengenaan sanksi pidana terhadap seseorang atau pihak-pihak yang ditemukan terlibat dalam pengelolaan praktik seks komersial, dapat dijatuhi pidana sesuai dengan tingkatannya. Adakah orang itu, misalnya, terbukti sebagai pelaku yang mengambil inisiatif (prostitusi), atau pengelola, atau dia sebenarnya pesuruh, atau pelanggan, hingga si pekerja seks itu sendiri.”
Kapankah penegakan hukum pelacuran mulai marak dilakukan di setiap sudut negeri dengan warganya yang banyak ditemukan bertabiat porno ini? Tak usah muluk menjawab sesuatu yang masih jadi impian. Soalnya, kini, besok, lusa, dan entah sampai kapan: praktik prostitusi di negeri ini selalu eksis –meski ilegal. (bersambung)
Cewek-cewek Panggilan Penjara Tj. Gusta (6/tamat)
Diboking TahananSulit ‘Berkokok’
Laporan : Ahmad Faisal
Mendatangkan pelacur ke penjara guna memuaskan hasrat seks,
bisa dilakukan kapan saja, yang penting uang ada. Ya, kuncinya: duit! Inilah buntut pameo: segala sesuatu yang bisa dipersulit tak akan dipermudah.
Setidaknya, begitulah asumsi hasil investigasi POSMETRO terhadap temuan lemahnya upaya penegakan hak-hak tahanan di rumah-rumah penjara Tanjung Gusta, terutama hak menyalurkan hasrat biologis. Soal ini tentu tak dialami para napi atau tahanan yang terlibat kasus ilegal logging, narkoba partai besar, apalagi korupsi.
Bahkan menurut Rani (25), seorang pelanggannya yang notabene tahanan berduit, saban pekan tak pernah absen memboking cewek kirimannya, meski lelaki berdarah Tionghoa itu diketahui mengidap diabetes. Secara teoritis, lelaki penderita diabetes tentu tak lagi nyaring ‘berkokok’ di ranjang.
Tapi itulah adanya. Bagi para tahanan 3 tipe kasus itu, duit seolah tak berseri. Karena itulah, para penikmat cewek-cewek pasokan Rani, adalah napi atau tahanan 3 jenis kasus itu. Ya, menu syur seharga minimal Rp.1.500.000/paket 3 jam itu tentu tak akan mungkin bisa dikompromikan guna dinikmati para tahanan kasus maling ayam, apalagi pencopet kelas pasar yang masuk bui usai bonyok digebuk massa.
Alih-alih menyalurkan hasrat seks yang lama terpendam, sebagian dari tahanan kelas kere itu malah ditemukan acap ‘dibon’ petugas untuk dipermak, guna kemudian diminta menyerahkan uang sogokan agar kasusnya ‘tak berkembang ke sana ke sini’. Syukur bagi mereka yang selama meringkuk di ‘hotel prodeo’ itu tak membuat orientasi seksnya jadi menyimpang.
Begitulah. Gelombang praktik prostitusi serta free sex diketahui semakin menggemuruh setelah internet membumi pada pertengahan dekade 90-an. Pengaruhnya dibuntuti kemajuan teknologi telepon seluler yang kian canggih. Dua temuan di zaman millenium itu kini menjadi alat baru dalam pergaulan seks bebas dan ‘tak bersekat’, seperti yang sekarang terus terjadi di balik sel-sel pengab penjara Tanjung Gusta, Medan. (tamat)
Horeee Lulus

HOREEE LULUS, karya FARAH NADYA UMAINA (Tanjungpinang Pos)
Nomine Rida Award 2011 kategori Foto Jurnalistik
Korban ALS

KORBAN ALS karya Amran Pohan (Metro Siantar)
Nomine Rida Award 2011 kategori Foto Jurnalistik
Salsabila

SALSABILA karya SAID MUFTI (RIAU POS)
Nomine Rida Award 2011 kategori Foto Jurnalistik
Menunggu Jatah Makanan

MENUNGGU JATAH MAKANAN karya YUSUF HIDAYAT (BATAM POS)
Nomine Rida Award 2011 untuk Foto Jurnalistik







